Braga Festival

This slideshow requires JavaScript.

September akhir. Terwujud juga keinginan saya untuk mengunjungi jalan Braga di mana tidak ada kendaraan satupun yang lewat. Inilah Braga Festival, di mana selama 3 hari 3 malam jalan Braga ditutup untuk sebuah event seni tahunan dan membuat macet jalan sekitarnya. Namun apalah artinya macet jika orang bisa turun ke jalan Braga, bebas dari polusi kendaraan bermotor, menikmati kesenian seluruh Jawa Barat, makan dan minum ala kaki lima, dalam hawa sejuk habis hujan.

Braga Panjang, Braga Pendek, Cikapundung Timur, dan Suniaraja, lautan manusia dengan arus deras tiada henti. Sejenak saya diingatkan dengan Pasar Seni ITB 101010, sama-sama lautan manusia, sama-sama nyeni sejauh mata memandang.

Braga Panjang, kanan kiri penuh pedagang kaki lima menjajakan dagangan tradisional. Beberapa mural dijadikan spot untuk atraksi-atraksi pinggir jalan: musik tradisional Jawa Barat, penyair jalanan, cosplay, dan suvenir-suvenir seni. Di tengah jalan berderet pameran foto seukuran tinggi badan. Seluruhnya adalah sudut-sudut kota Bandung yang terekam dalam lensa kamera puluhan fotografer. Di ujung-ujung jalan di mana seluruh kegiatan ini bermula, adalah instalasi-instalasi berukuran besar, tulisan jumbo, dan gapura  yang menjadi penanda inilah Braga Festival 2012 dan bukan hanya Jalan Braga.

Braga Pendek, kanan kiri penuh pedagang batik dan suvenir. Kalau saja saya tidak bisa mengerem nafsu belanja, barangkali kanan kiri sudah menenteng baju batik Jawa Barat.
Sayangnya saya tidak di sana hingga malam. 101 pasang penari salsa akan memecahkan rekor menari salsa 3 jam nonstop. Terbayang bagaimana festivalnya nuansa malam itu.

Sayangnya, sekali lagi, kesadaran akan ruang publik belum sepenuhnya dijunjung tinggi. Penyelenggara mungkin lupa akan anak-anak dan kaum bukan perokok yang juga turun ke jalanan. Namun mengingat sponsor acara ini adalah salah satu merk rokok terbesar negeri ini, tidak heran 3 dari 5 orang yang lewat mengepulkan asap dari bibirnya. Dan satu lagi, betapa sulitnya mencari trashbag atau tempat sampah, dan betapa mudahnya menemukan sampah di bawah kaki. Sekali lagi, ini sepertinya luput dari perhatian penyelenggara acara maupun pemkot dan dinas kebersihannya.

Masih selalu ada keinginan untuk jalan Braga senantiasa dilarang dilewati oleh kendaraan bermotor. Jalanan itu terlalu cantik untuk dibiarkan cepat amblas lantaran dilewati kendaraan-kendaraan bervolume berat. Jalanan itu terlalu romantis: galeri-galeri seni di kanan-kiri, mural-mural sarat makna di beberapa titik, bangunan tua khas Eropa menjulang tinggi, dan pasangan-pasangan duduk makan berdua di kafe-kafe yang ada. Pemandangan malam sehabis hujannya menakjubkan. Jalanan paving hitam basah oleh tetes air, memantulkan cahaya lampu bangunan dan lampu jalanan serta bulan. Inilah Braga, yang senantiasa mengingatkan saya akan imaji kota Paris. Inilah Braga, jalanan kecil paving yang kian amblas…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s